Tampilkan postingan dengan label perubahan iklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan iklim. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM MASYARAKAT ADAT HOANA GURA DAN PAGU



Global Warming atau pemanasan global saat ini merupakan isu penting yang menjadi perhatian seluruh masyarakat dimuka bumi. Pemanasan global memberi banyak dampak negatif terhadap kehidupan mahkluk hidup dimuka bumi terlebih kepada manusia. Dampak yang terjadi seperti perubahan iklim secara drastis yang menyebabkan mencairnya es di kutub. Ini merupakan ancaman bagi ribuan bahkan jutaan orang yang tinggal dan hidup di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil karena naiknya permukaan air laut. Selain itu perubahan iklim berdampak juga terhadap perubahan cuaca yang berakibat semakin sulitnya petani tradisional dalam memprediksi cuaca untuk musim tanam ataupun nelayan untuk musim tangkap ikan.

Bagoaha, kearifan lokal masyarakat adat di pulau Kumo
Masyarakat adat adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim tersebut.  Hal ini karena hampir sebagian besar aktivitas mereka berhubungan langsung dengan alam. Alam telah menjadi salah satu bagian penting dari semua aktivitas yang dilakukan.  Masyarakat adat juga sebenarnya memiliki bentuk-bentuk kearifan lokal yang biasa digunakan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan alam. Kearifan-kearifan lokal ini merupakan hasil pengamatan secara terus-menerus terhadap alam sekitarnya yang kemudian dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan diturunkan dari generasi ke generasi. Hoana Gura dan Pagu merupakan dua komunitas yang ada di pulau Halmahera diantara sekian banyak komunitas adat yang masih mempraktekan kearifan-kearifan lokal tersebut. Karena berada pada satu daratan, bentuk-bentuk kearifan lokal mereka sebagian besar masih sama, hanya beberapa yang spesifik sesuai karakter wilayah masing-masing.

Kearifan Lokal Masyarakat
a      Memprediksi Musim
Dalam memprediksi musim khususnya musim angin yang akan berpengaruh besar pada musim tanam serta musim melaut masyarakat Hoana Gura memiliki cara tersendiri. Mereka biasanya melihat posisi awan yang ada di puncak gunung api. Bila awan berbentuk garis lurus telah menutupi puncak gunung api maka itu pertanda akan ada angin besar atau pergantian musim. Kebiasaan ini biasa dikenal dengan Mangele.
Seorang Ibu sementara mencari kerang di daerah padang lamun, Pulau Kumo
Ini juga sering digunakan untuk memprediksi musim melaut dan jenis ikan yang akan ditangkap. Untuk musim tanam padi, masyarakat hoana Gura dan Pagu memiliki penanggalan yang hampir sama. Musim tanam jatuh pada bulan Oktober - November dan waktu panen pada bulan Maret - Juni. Indikasi dimulainya musim tanam dilihat dari mulainya musim hujan pada bulan-bulan tersebut. Untuk penanggalan musim angin berdasarkan kalender musim Hoana Gura, angin barat bertiup pada bulan Desember - Mei, angin utara bertiup di bulan Juni – Juli, angin selatan bertiup di bulan Agustus - September dan angin Timur bertiup di bulan Oktober – November sedangkan berdasarkan penanggalan Suku Pagu, angin barat bertiup pada bulan Desember – Januari, angin timur bertiup pada bulan Februari – April, angin utara bertiup pada bulan Mei – Juni.

b.      Nanaku 

Menanam Mangrove untuk mencegah abrasi
Dalam melihat perubahan musim, masyarakat Pagu dan Gura juga sering menggunakan cara menandai/mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu dan sering berulang. Masyarakat mengenalnya dengan “Nanaku”. Nanaku digunakan untuk memprediksi kejadian yang akan datang berdasarkan pengalaman yang lalu dengan melihat tanda-tanda tertentu yang terjadi pada alam ataupun perubahan perilaku hewan. Misalnya di masyarakat Gura, bila musim angin selatan akan tiba, ditandai dengan adanya migrasi jenis burung Korehara ke wilayah mangrove di pulau Kumo . Jenis burung ini terbang dari wilayah bagian selatan. Ini menjadi tanda akan terjadinya perubahan musim angin, karena burung tersebut hanya terlihat pada waktu tertentu saja, biasanya awal musim angin selatan.  Kemudian ada juga jenis burung Luo-Luo yang bermigrasi ke wilayah pulau Kumo dan Kakara pada saat akan tibanya musim Ikan Lompa karena ikan lompa merupakan makanan burung ini.  Selain itu, perilaku hewan yang sering diamati untuk melihat perubahan alam yakni suara burung Maleo. Burung ini bersuara pada saat air surut dan juga pasang. Maleo masih menjadi penanda perubahan naik-turunnya air laut yang masih digunakan oleh masyarakat Hoana Gura dan Pagu.  

c.       Kearifan Mengelola Alam
Masyarakat Hoana Gura dan Pagu sebenarnya telah memiliki bentuk-bentuk kearifan dalam mengelola alam. Kearifan ini berhubungan dengan aktifitas keseharian masyarakat dalam mengambil hasil alam baik itu hasil di darat maupun hasil laut. Ada beberapa bentuk kearifan lokal yang masih mirip antara Hoana Gura dengan Pagu.
Masyarakat Hoana Gura mengenal dan masih mempraktekan beberapa bentuk kearifan lokal khususnya dalam pengelolaan hasil laut. 

1.     Bagoaha; adalah Aktivitas mencari kerang, ikan  dan hasil laut lain. Dilakukan pada saat air surut baik siang ataupun malam, menggunakan parang, saloi (bakul), dodofa (alat tikam). Aktivitas ini pada pagi-sore pada saat air surut. Kearifan ini dilakukan bila terjadi musim angin sehingga masyarakat tak  bisa melaut.

2.   Tototaka ; Batobo (berendam di laut dengan air sebatas pinggang) kemudian menangkap ikan. Caranya, melangkah maju, kemudian air di buat keruh, kemudian mundur kembali sekitar 7 depa (sekitar 3 – 4 meter kebelakang), umpan dilepas ditempat air yang keruh tadi. Cara ini digunakan pada saat musim ombak dan dilakukan di sekitar pulau. 

3.    Bahidobongo : Mencari ikan di malam hari, saat air surut besar (air meti besar). Menggunakan lampu ataupun obor, keranjang, parang dan tombak (hohoba). Pencarian dilakukan pada air sebatas betis.
4.      Bahilo  : Mencari hasil laut (ikan, kerang dll) menggunakan perahu dan lampu. Dilakukan oleh 2 orang ( 1 orang bertugas menjadi operator perahu dan yang 1 memegang tombak untuk menikam ikan). Biasanya dilakukan pada musim teduh disekitar pulau. 

5.   Taugumi : Aktivitas masyarakat banyak (sekitar 25 – 30 orang) untuk menangkap ikan di sekitar pulau Kakara. Menggunakan tali nilon dan daun kelapa. Cara penangkapannya, daun kelapa dipasangkan pada tali nilon dan di benamkan dalam air sampai menyerupai pagar dalam air. Ikan yang telah ada dalam lingkaran kemudian digiring ke daerah yang airnya dangkal. Setelah itu ikan yang telah terperangkap kemudian ditangkap menggunakan parang ataupun tombak. (aktivitas ini sudah tak lagi dilakukan karena biasanya masyarakat menggunakan racun sehingga ikut merusak karang).
6.      Sasi : merupakan bentuk pelarangan pengambilan hasil alam sampai pada batas waktu tertentu yang ditentukan. Saat ini Sasi telah dilakukan secara gereja atau dikenal dengan istilah Sasi Gereja.

Kondisi bawah laut di Pulau Kumo
Untuk masyarakat Pagu juga memiliki bentuk kearifan dalam mengelola alam yang masih mirip dengan masyarakat di Hoana Gura diantaranya :
1.      Tolak Bala ; adalah bentuk ritual yang dilakukan sebelum pembukaan lahan untuk kebun masyarakat. Biasanya dilakukan pada lahan yang baru pertama dibuka dari hutan. 

2.      Bugo; adalah bentuk larangan mengambil hasil alam yang ditandai dengan daun, batang tanaman ataupun tanda tertentu. Bugo biasanya dilakukan dengan menggunakan mantra-mantra tertentu yang berakibat sanksi dari leluhur terhadap orang yang melanggar

3.      Bubugol; hampir mirip dengan proses Bugo namun yang membedakannya adalah bentuk sanksinya. Sanksi untuk Bubugol berupa sanksi yang langsung diberikan oleh dewan adat atau ketua adat kepada orang yang melanggar. 

4.      Sasi; mirip dengan proses sasi gereja di Hoana Gura

Pemanfaatan Mangrove
Bagi masyarakat Hoana Gura, Mangrove atau lebih dikenal dengan Soki memiliki arti penting bagi kehidupan mereka yang ada di pulau-pulau kecil. Mangrove atau Soki memiliki fungsi sebagai lapisan pengaman pulau dari terpaan ombak, tempat pemijahan bibit ikan, habitat burung dan biota laut seperti bia (kerang) dan Kepiting. Selain fungsi habitat, soki juga sering dijadikan sebagai obat tradional bagi masyarakat yang tinggal disekitar pesisir pantai. 

Abrasi yang terjadi dalam 10 tahun terakhir telah membuat masyarakat Hoana Gura benar-benar menjaga fungsi Soki ini. Di pulau Kumo, telah dilakukan pembibitan kurang lebih 10.000 anakan Soki dari beberapa jenis untuk ditanam ditempat-tempat yang rawan abrasi. Selain itupun mereka telah mengidentifikasi jenis dan kegunaan Soki yang ada di wilayah mereka. 

Jenis
Ciri Pembeda
Kegunaan
Populasi
Soki-soki
1.Daun : agak panjang
2. Akar : tergantung
3. Warna batang pohon agak menghitam
4. Bentuk kulit batang pohon  ada retakan-retakan kecil
5. Buahnya berbentuk panjang (40 cm), berwarna hijau tua
6. Warna bunga coklat
7. Daerah tumbuhnya di wilayahnya yang berawa
1. Batang : Kayu Bakar dan alat rumah
2. Buah : sebagai bibit tanaman baru
3. Akar : bahan mainan anak-anak
Dominan dari jenis yang lain
Posi – posi
1.   Daun : bulat
2.  Akar : berbentuk seperti jarum yang tumbuh ke atas
3.  Warna batang pohon coklat berbintik putih
4.  Bentuk kulit batang utuh, tak ada retakan
5.  Buahnya berbentuk bulat lonjong, berwarna hijau muda
6.  Warna buah  hijau
7.   Susah dibudidayakan
8.   Daerah tumbuhnya di wilayah yang pasirnya lebih dominan
1.     Batang : kayu bakar
2.     Kulit batang : obat tradisional (demam dll)
3.     Akar : biasanya dibuat mainan anak
4.     Buah : dibuat mainan anak-anak (gasing)
5. Cabangnya biasanya di ambil untuk dijadikan tempat pengasapan kopra karena kuat
Lebih sedikit dari Soki-soki








Menurut warga Hoana Gura dan Pagu, dalam 10 tahun terakhir musim sudah sangat sulit untuk diprediksi. Misalnya saja, untuk awal musim hujan yang biasanya jatuh di bulan Oktober mulai bergeser ke bulan November sampai Januari. Kalau pun ada di bulan Oktober, pasti intensitas hujannya kecil. Untuk musim hujan dan panas juga sudah tak terbagi rata, biasanya per 6 bulan sekali. Tapi sekarang sudah acak. Musim yang diprediksi sudah bergeser. Ini juga yang memberikan dampak bagi bagi masyarakat Hoana Gura dan Pagu terhadap kelender musim mereka.

Menanam Magrove menyambut perubahan iklim
Dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi bencana di dua wilayah tersebut. Di Hoana Gura diperhadapkan dengan bahaya abrasi yang mengikis wilayah pulau Kumo, Kakara dan Tagalaya. Ini menyebabkan air laut masuk sampai ke kebun warga bahkan sampai dekat dengan pemukiman warga. Biasanya hal tersebut terjadi pada musim-musim tertentu saja. Ini berdampak juga terhadap kelangkaan air bersih di pulau Kakara.

Untuk wilayah Pagu, bencana yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah kebakaran hutan dan banjir. Kebakaran hutan terjadi dikarenakan musim panas yang panjang dan tak seperti biasanya. Rumput alang-alang yang kering sangat rentan terhadap api dan kemudian akan menjurus ke kebakarn hutan dan kebun-kebun warga. Selain itu dalam lima tahun terakhir terjadi banjir besar disalah satu kampung masyarakat Pagu. Hujan yang turun dengan intensitas yang tinggi mengakibatkan sungai meluap hingga ke pemukiman warga. 

Dalam mengantisipasi hal-hal tersebut masyarakat di Hoana Gura dan Pagu telah melakukan langkah-langkah adaptasi seperti penanaman mangrove di pulau Kumo, identifikasi jenis mangrove, pendokumentasian kearifan lokal mengelola alam serta kalender musim. Untuk masyarakat Pagu sendiri telah melakukan pemetaan partisipatif untuk wilayah adat mereka serta mengkonsilidasikan kelembagaan adat. Selain itu, kearifan-kearifan lokal yang diuraikan diatas tetap dipraktekan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan alam yang terjadi. #abe

Editor : Ubaidi Abdul Halim

Rabu, 16 April 2014

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM BAGI MASYARAKAT PESISIR DI HOANA GURA




DIKALA ALAM TAK LAGI BERSAHABAT

Aktifitas Warga di Pulau Kumo (Foto : AN)
Global Warming atau Pemanasan global saat ini merupakan  isu penting yang menjadi perhatian seluruh masyarakat dimuka bumi. Pemanasan global memberi banyak dampak negatif terhadap kehidupan mahkluk hidup dimuka bumi terlebih kepada manusia. Dampak yang terjadi seperti perubahan iklim secara drastis yang menyebabkan mencairnya es di kutub. Ini merupakan ancaman bagi ribuan bahkan jutaan orang yang tinggal dan hidup di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil karena naiknya permukaan air laut. Selain itu perubahan iklim berdampak juga terhadap perubahan cuaca yang berakibat semakin sulitnya petani memprediksi cuaca untuk musim tanam ataupun nelayan untuk musim tangkap ikan. 

Masyarakat Hoana Gura, merupakan komunitas adat yang mendiami wilayah pulau Halmahera bagian utara. Wilayah adat komunitas ini terbagi atas wilayah pesisir (3 pulau kecil) dan wilayah dataran rendah sampai berbukit. Kehidupan masyarakat Hoana Gura sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, nelayan dan buruh pikul. Ini menyebabkan ketergantungan dengan alam sangat tinggi terlebih di laut. Wilayah ini juga kaya akan biodiversity baik di darat maupun di laut.
Di wilayah pesisir, kita bisa dengan leluasa menemukan koral yang masih terjaga dengan baik pada beberapa titik. Selain itu, beragam jenis ikan dan biota laut lain masih dapat dijumpai. Masyarakat biasa mengkonsumsi biota-biota laut tersebut seperti bia (kerang), taripang (teripang), bulu babi dan lain-lain sebagai pelengkap protein mereka.

Beberapa tahun terakhir ini, komunitas Hoana Gura khususnya yang bermukim di pulau Kumo, Kakara dan Tagalaya mengalami masalah serius yakni abrasi air laut yang sedikit-demi sedikit mulai mengikis garis pantai. Terkadang pun air sampai masuk ke lahan kebun dan sekitar pemukiman warga. 6 tahun lalu, pernah terjadi ombak besar sehingga air laut masuk sampe (sampai )di torang (Kami) pe (punya) kobong, Ungkap Pak Wempi Widadari, Kades di Pulau Kumo. Air laut ini menggenangi kebun-kebun warga menyebabkan matinya tanaman dan kerugian bagi masyarakat. Di bagian depan pulau Kumo juga, sering terjadi banjir roob. Ketika ombak besar, air laut masuk melalui celah-celah mangrove dan tergenang, tak jauh dari sekitar pemukiman warga Kumo.

Kondisi Hutan Bakau di Pulau Kakara (Foto : AN)
Cerita yang sama juga terjadi di Pulau Kakara. Atler Wangengela, pemuda Kakara, menuturkan bahwa wilayah timur pulau Kakara terancam putus karena terus menerus dihantam ombak. Tersisa sekitar 20 meter lagi, maka sebagian pulau ini akan putus menjadi dua. Dari laut tarada yang tahan ombak, makanya ombak langsung hantam di pinggir pantai, tutur Atler wangengela. Selain itu, kondisi yang memprihatinkan pula terjadi di sekitar wilayah pemukiman. Bila pasang besar pada bulan tertentu, air laut akan naik sampai dekat dengan pemukiman dan sekolah. Selain itu, sumur-sumur milik warga akan tercampur dengan air laut menyebabkan kelangkaan air bersih bagi warga. Mangrove yang tumbuh di depan pulau sangat membantu karena memperlambat kecepatan ombak, sehingga menurunkan daya rusaknya bagi pulau. Kondisi Kumo dan Kakara pun sama halnya terjadi di Pulau Tagalaya.

Menurut warga, 20 tahun lalu tak pernah terjadi hal-hal seperti ini. Jarang sekali terjadi ombak besar di sekitar 3 pulau ini. Saat ini, prediksi cuaca untuk musim tanam juga telah meleset. Bulan  November sampai Desember harusnya terjadi hujan, makanya bulan tersebut merupakan musim tanam padi. Tapi sekarang, hujan tak tentu. Biasanya mulai bulan Desember ataupun bergeser sampai  bulan Januari dan Februari. Semua ini mempengaruhi aktivitas masyarakat dalam hal pertanian. Prediksi musim ikan pun berubah. Tak menentu lagi musim musim tersebut. 

Hal diatas merupakan bagian perubahan iklim yang berdampak bagi kehidupan  masyarakat adat. Kearifan lokal masyarakat sangat dibutuhkan sebagai bentuk adaptasi maupun mitigasi menghadapi perubahan iklim guna menekan potensi dampak negatif yang dirasakan masyarakat serta perhatian serius dari berbagai pihak khususnya pemerintah.  


Sabtu, 27 April 2013

MASYARAKAT ADAT PNU MESEM MENGGALI KEARIFAN LOKAL



”Perubahan Iklim Akibat Keserakahan Manusia Mengeksplotasi SDA”

Dua hari berturut – turut masyarakat adat Pnu Mesem melakukan kegiatan Fokus Group Diskusi (FGD) kearifan lokal dalam adaptasi perubahan iklim.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 10 – 11 April 2013, dipusatkan di kantor Desa Messa, Kab. Halmahera Tengah. Hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus AMAN Maluku Utara, tokoh – tokoh adat, perempuan adat dan pemuda adat.

Isu perubahan iklim telah mempengaruhi kehidupan masyarakat adat Pnu Mesem, mulai dari pergeseran pemukiman penduduk sekitar 100 meter lebih dari 50 tahun terakhir dan semakin mengecilnya Pulau Mtu Mya karena abrasi pantai, hujan sampai menyebabkan banjir bahkan juga kalender musim di kampung yang sering berubah tak menentu.

Walaupun demikian, masyarakat adat Pnu Mesem belum menyadari bahwa ancaman ini adalah bahaya iklim yang saat ini hangat didiskusikan di tingkat lokal, nasional dan internasional. Masyarakat adat menganggap ini peristiwa yang terjadi karena kehendak Tuhan, bukan ulah manusia yang rakus SDA.

Udi Lasa, salah satu tokoh masyarakat adat di kampung ini mengemukakan bahwa mereka baru tau bahwa ancaman dari perubahan iklim ini akibat dari keserakahan manusia untuk mengeksploitasi SDA ”Terus terang kami baru tau bahwa kegiatan tambang itu berkontribusi terhadap perubahan iklim”, terangnya.

Dalam materi yang disampaikan oleh Munadi Kilkoda, Deputi AMAN Maluku Utara, mengatakan bahwa, perubahan iklim bukanlah hal yang baru, isu ini sudah sekian tahun dibahas oleh pemerintah maupun kelompok kepentingan seperti LSM, perusahan maupun kalangan perguruan tinggi. Sayangnya pembahasan ini tidak sampai di telinga masyarakat adat. Masyarakat adat yang memiliki hak atas tanah, wilayah dan SDA bahkan menjadi korban dari perbuatan orang lain, ”Masyarakat adat ini sekian ratus tahun sudah menjaga hutan, tapi pemerintah memberikan kuasa hutan kita itu kepada perusahan, lalu mereka mengekploitasi hutan kita dan kita harus menghadapi masalah seperti saat ini”, ungkapnya.

Lanjut Munadi, masyarakat adat ini tidak bisa dipisahkan dengan alam, karena disitulah mereka bisa membangun hidup dari turun – temurun. Tanah, air dan hutan itu adalah kehidupan masyarakat adat. Munadi berhadap masyarakat adat Pnu Mesem bisa melihat kearifan lokal yang mereka miliki sebagai modal sosial dalam menjaga kampung ini dengan sumberdaya alam yang dimiliki untuk masa depan generasi.

Inventarisasi kearifan lokal masyarakat adat Pnu Mesem menemukan seperti remen (O Hati) alat untuk menangkap ikan, Musyawarah Sem Rom (Pala Hutan) untuk kegiatan panen pala, Kot (Larangan) yang dipergunakan saat musim menanam di kebun, Rom – Woe – Boten (Hutan – air – tanah) sebagai tempat membangun hidup. Masyarakat adat Pnu Mesem juga mengidentifikasi batas wilayah adat mereka berdasarkan sejarah leluhur yang hidup lebih dulu di kampung.

Diakhir proses kegiatan, masyarakat adat Pnu Mesem bersepakat bahwa menjaga alam dengan melestarikan dan mempraktekan kearifan lokal, menjadi keharusan untuk masa depan anak – cucu mereka. Mereka berhadap Wlon (kepala kampung) dan Mahimo (pembantu) harus dimunculkan kembali sebagai tatanam pemerintahan adat yang tugasnya menjaga kearifan lokal di kampung ini, (Ubaidi Abd. Halim)